Aruji, Kadisdukcapil Ajak Lembaga Agama MoU Inovasi Layanan Three In One


Aruji kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kabupaten Tanjung Jabung Timur provinsi Jambi. Waktoe | Dok

Aruji kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kabupaten Tanjung Jabung Timur provinsi Jambi. Waktoe | Dok

JAMBI - Warga masyarakat mungkin kurang begitu memperhatikan  status perkawinan yang tertulis di Kartu Keluarga baik milik sendiri maupun milik orang lain. Didalam tulisan status perkawinan tersebut tertulis antara kawin tercatat atau kawin tidak tercatat.

Kawin tidak tercatat ini dimaksudkan adalah perkawinan yang terjadi hanya dilakukan kawin siri (Islam, red) tanpa di daftarkan ke KUA/negara. Begitu pun bagi perkawinan yang seperti Kristen/katholik hanya pemberkatan/misa di Gereja, atau persaksian perkawinan sesuai agama masing masing baik Hindu, Budha, Konghucu, dan lainnya tanpa didaftarkan ke Kantor Dukcapil.

Saat hal itu dipertanyakan ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), Aruji Kadisdukcapil Tanjab Timur kepada kantor berita waktoe  (5/3) mengingatkan didalam UU Perkawinan disebutkan perkawinan sah jika dilakukan menurut agama masing masing namun legalitasnya ada di pemerintah/ negara maka harus tercatat.

Jika Negara  tidak mengetahui, maka didalam Kartu Keluarga akan tertulis perkawinan tidak tercatat dan ini dimungkinkan akan muncul masalah dikemudian hari seperti masalah warisan, hak-hak istri, dan lainnya.

"Jika dulu ekses yang ditimbulkan dengan perkawinan tidak tercatat seperti saat terjadi kelahiran maka tertulis di Akta Kelahiran hanya anak seorang ibu, tetapi sekarang dengan tambahan Surat Pertanggungjawaban Mutlak, bisa tertulis nama kedua orangtuanya", beber Aruji.

Adanya akta perkawinan yang dikeluarkan Dukcapil untuk agama diluar Islam, kita beberapa kali sudah menyerahkan akta perkawinan kepada warga yang melakukan pernikahan di luar penikahan muslim. Maka wacana adanya MoU/kesepakatan kerjasama dengan institusi/lembaga agama akan segera kita lakukan.

"Kita akan undang  teman-teman pemimpin agama dari Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan lainya untuk kita sosialisasikan  program pelayanan Three In One dan kita lakukan MoU", ungkapnya.

Kalau di warga Muslim kita butuh no buku nikah dan tanggal nikah, lalu kita layani program Three In One, dalam hari yang sama kita layani adminduk penerbitan 3 KK (KK orangtua  dan KK pecahan) serta perubahan status di KTP kedua mempelai.

Kita juga akan kerjasama dengan kelompok- kelompok pengurus kematian agar akta kematian bisa terlayani dengan baik, meskipun disetiap desa sebetulnya kita sudah ada petugasnya.

"Kita akan targetkan setelah puasa ya, dan perlu diingat pelayanan sosial itu adalah kepuasan, pelayanan sosial ini karena tidak dapat uang", pungkasnya.

Three In One Dukcapil Disambut Gembira  

Pdt Roly Marpaung, dari  GKPI Pandan Makmur, kepada kantor berita waktoe saat ditanyakan  ada nggak hubungan kerjasama dengan Dukcapil?,  Pelayanan Akta Perkawinan, Pdt Roly berkata, Warga jemaat setelah pelaksanaan pemberkatan nikah di Gereja, Mereka mengurus sendiri ke Dukcapil.

Kalau kemudian warga tidak mengurus mungkin karena sesuatu hal, tetapi kami bersyukur dan terimakasih jika kemudian Dukcapil akan mengadakan sosialisasi serta kerjasama dalam pelayanan adminduk terkait akta perkawinan ya.

Kita (Pendeta GKPI,red) program mutasian per 5 tahun jadi kita akan pindah. Nah selama ini Kita tidak pernah mendapatkan sosialisasi dari Dukcapil. Jadi Harapannya, ada sosialisasi kepada Pengurus Gereja atau Pendeta tentang pencatatan pernikahan, ada data yang akurat dan saling membutuhkan.

Persoalan data jemaat yang akan menikah bisa kita pastikan lengkap sebelum pemberkatan dilaksanakan dan jemaat menyampaikan jauh jauh hari.

"Apa data data yang harus dilengkapi untuk tercatat di Pemerintahan. Kalau ada sosialisasi akan lebih gampang dan akan kita percayakan pada pengurus untuk menangani", ungkapnya.

Ditambahkan Pdt Roly, Total jemaat GKPI ada 44 KK, atau 150 jiwa, warga sebetulnya tidak puas kalau hanya sah secara agama,  dan berharap tercatat di pemerintahan.

Senada Pdt Parsiman dari Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) menyampaikan
Kerjasama dengan Dukcapil selama ini belum ada, dan rata rata jemaat mengurus sendiri ke dukcapil. Sebetulnya kami memiliki wacana  kesana namun kalau diinisiasi dari Dukcapil kami sangat berterimakasih.

Di Kantor Gereja, Pdt Bagus Sasana Dharma, Sth, dari GPdI (Gereja Pante Kosta di Indonesia) Muara Sabak Barat, Sangat senang, terhadap gagasan Dukcapil yang akan melakukan sosialisasi dan kerjasama dalam kepengurusan adminduk.

"Mereka (Jemaat) sendiri yg mendaftarkan perkawinannya, ada yang tidak didaftarkan, seperti jemaat yang tidak mengurus, mereka karena belum menetapkan tinggal disini", ujarnya.

Selebihnya, rata-rata mereka dipastikan mengurus karena lokasi kita dekat dengan kantor Dukcapil ya.

Pelayanan Adminduk, Pdt, Bagus Sasana Dharma, Sth, menyatakan siap bahkan karena disini jaraknya jauh-jauh, jadi muncul beberapa kendala geografis, maka ide dari Dukcapil ini sangat baik.

"Kita bisa melengkapi persyaratannya termasuk biaya transportasi, seperti persyaratan bebas Narkotika yang dikeluarkan BNN pun kita siapkan", pungkasnya.

Gagasan pelayanan Three In One oleh dukcapil juga disambut gembira oleh pemerintah desa. Seperti yang disampaikan Didik Kades Sukamaju Kecamatan Geragai. Warga masyarakat butuh pelayanan cepat, dan gagasan kami (pemdes Sukamaju) inginnya pas Pemberian buku nikah bisa diikuti perubahan KK bagi pengantin dan juga KK sebelumnya termasuk perubahan status di KTP kedua mempelai.

"Pelayanan Three In One dari Dukcapil itu keren mas, kapan ya itu bisa terlaksana", pinta Didik.