Jerat Hukum Untuk Jaringan Penambang Liar


Penambangan liar di kel. Nibung Putih kecamatan Muara Sabak Barat. Waktoe | istimewa

Penambangan liar di kel. Nibung Putih kecamatan Muara Sabak Barat. Waktoe | istimewa

JAMBI - Jerat hukum bagi penambangan liar baik tanah uruk maupun batuan andesit di Kabupaten Tanjung Jabung Timur belum nampak. Padahal sangat nampak kegiatan illegal mining tersebut. Jerat hukum seharusnya tidak hanya bagi penambang liar, tetapi juga harus dikenakan terhadap para penadahnya.

Lokasi Illegal Mining bisa dibilang tidak jauh dari komplek perkantoran, dimana penegak hukum semuanya berkantor disitu. Jika dihitung hanya dikisaran 3 hingga 5 kilometer lokasi pertambangan liar tersebut. Tetapi seakan sia sia, harapan warga masyarakat.

Kegiatan penyediaan tanah uruk atau sering disebut Illegal Mining pun sangat terstruktur, kebanyakan pemakai tanah uruk sendiri tidak langsung ke pengusaha pertambangan, tetapi melalui broker kemudian merekalah yang berhubungan dengan pengusaha tambang. Kecenderungan, para broker mengambil tanah uruk dari penambang liar,  hal ini disebabkan karena harga jauh lebih murah.

Salah satu  pelaku jasa/broker yang tidak mau disebut namanya di media ini menjelaskan, ada selisih harga tanah uruk di penambangan resmi dan liar.

"Hitungannya tanah uruk resmi per kubik Rp. 25.000,- isi truck kecil dari 4 hingga 6 kubik, ini belum termasuk biaya transportasinya. Beda dengan harga di tambang liar, harga per truck hanya Rp. 80.000,-, jadi ya rata rata pilih yang illegal mas", ungkapnya.

Kasdi pelaku jasa usaha tanah uruk melalui selulernya, menyampaikan sementara tidak membuka kegiatan galian C lagi. "Saya sekarang beli  tanah uruk itu mas, ya, benar saya dapat pesanan dari Hatta 500 truck untuk PT EWF, dan saya  beli dari tambang tanah uruk milik Edison", ungkapnya.

Ditambahkan, saya baru dapat kontrak per hari ini (Rabu, 03/3) mas, dengan pak Hatta.

BACA JUGA :

https://waktoe.com/content/illegal-mining-tanah-uruk-siapa-yang-diuntungkan

Saat Kantor Berita Waktoe menelusuri kegiatan illegal mining yang ada di kabupaten Tanjung Jabung Timur, lokasinya terbagi di beberapa titik diantaranya:
1. Bukit Naga Ukir kelurahan Rano, kec. Mu. Sabak Barat terdapat 2 lokasi  dengan penanggung jawab S dan J.
2. RT. 05 Kelurahan Nibung Putih, Kecamatan Muara Sabak Barat milik E
3. Tanjung Batu kelurahan Sabak Barat diperkirakan banyak titik titik tambang Illegal baik tanah uruk maupun Andesit milik dari beberapa perusahaan.

Dan, masih banyak penambangan liar yang ada di Tanjab Timur diluar 3 lokasi tersebut diatas mulai dari tanah uruk, batuan andesit dan pasir.

Sementara itu Kapolres Tanjab Timur, AKBP Deden Nurhidayatullah, saat dihubungi baik melalui sambungan selulernya maupun WhatsApp, belum memberikan tanggapan.